September 19, 2008

PERANAN AGROINDUSTRI DALAM PEMBANGUNAN INDONESIA UNTUK MENGHADAPI ERA GLOBALISASI

Globalisasi atau perdagangan bebas sering dikumandangkan oleh media beberapa tahun ini. Perdagangan bebas yang dicanangkan dibuka pada tahun 2010 mampu memberikan kemudahan bagi komoditi export-import untuk dapat masuk ke Negara yang dituju, dengan tarif impor mendekati nol. Indonesia merupakan Negara agraris yang sangat besar sehingga mempunyai potensi pertanian yang sangat besar. Hal tersebut menjadikan komoditi pertanian Indonesia menjadi komoditi penting dalam perdagangan bebas. Apa itu agroindustri lalu apa hubungannya dengan perdagangan bebas?? Itu mungkin pertanyaan yang ada dalam benak pembaca. Agroindustri berasal dari kata agro(pertanian) dan industry(perdagangan dengan skala produksi besar). Agro industry merupakan sebuah subsistem yang mampu menciptakan nilai tambah dari sebuak komoditi primer hasi pertanian. Melalui agroindustri berbagai macam komoditi unggulan seperti gula, beras, jagung, kedelai akan mampu diexplore terus manfaat dan hasil produknya. Sehingga sudah saatnya pembangunan lebih berbasis pada pertanian dalam arti luas sehingga industry yang seharusnya dikembangkan adalah industry manufaktur agro(agroindustri). Secara umum semakin banyak diversifikasi produk dari komoditas pertanian maka akan meningkatkan pendapatan Negara juga karena akan semakin banyak kegiatan ekonomi yang berlangsung. Keuntungan lainnya adalah semakin terbukanya lapangan kerja bagi masyarakat, dengan kata lain agroindustri merefleksikan budaya kerja industry modern yang menciptakan nilai tambah tinggi. Salah satu dampak dari agroindustri adalah kita harus menekan harga komoditi pertanian agar mampu bersaing dengan komoditi dari Negara lain. Harga komoditi seperti kedelai, jagung dan sawit akan ditekan oleh pemerintah, padahal saat ini harga pangan dunia sedang melonjak. Peranan pasar akan membuat pemerintah tidak leluasa dalam menentukan harga.Selain itu semakin mudahnya produk luar yang masuk kedalam Indonesia sehingga akan menciptakan persaingan dengan produk pertanian local. Beberapa komoditi unggulan Indonesia menutrut Departemen Perdagangan dan Kehutanan yaitu kelapa sawit, kakao, karet dan jagung. Kelapa sawit merupakan komoditas agroindustri terpenting dalam menopang export non-migas Indonesia. . Saat ini, jumlah dan nilai ekspor CPO Indonesia mencapai 60% dari total perdagangan dunia. Potensi produksinya juga sangat mendukung dengan pertambahan luas kebun kelapa sawit mencapai 5 juta ha atau meningkat 87% dalam 20 tahun terakhir. Namun, sekarang sering terjadi pembukaan lahan hutan untuk perkebunan kelapa sawit. Hal tersebut disebabkan karena permintaan pasar yang belum sejalan dengan produksi karena pemerintah sedang menggalakkan pengembangan energy alternative. Karet alam termasuk komoditas unggulan agroindustri yang diharapkan pengembangannya akan memberi multiplier effect bagi ekonomi Indonesia. Produksi karet alam terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2005 produksi karet alam mencapai 2,3 juta ton dengan pertumbuhan 9,2% dibandingkan dengan 2001 dan menduduki peringkat kedua dunia setelah Thailand. Potensi kakao Indonesia sangat besar dan menduduki posisi kedua sebagai produsen kakao dunia. Berdasarkan analisis Departemen Pertanian tahun 2007, proyeksi total ekspor kakao Indonesia akan mencapai 624.241 ton, atau meningkat 27% dari volume ekspor tahun 2006. Pada tahun 2008 diproyeksikan total ekspor kakao Indonesia mencapai 701.269 ton atau meningkat 12% dari tahun 2007. Namun saying Indonesia masih mengexpor kakao dalam bentuk biji dan kopi, haruslah ada inovasi produk dari kakao. FAKTA VS ANGAN-ANGAN AGROINDUSTRI Ironis sekali, disaat kita belum masuk kedalam perdagangan bebas Negara ini sudah bergantung dengan impor dalam memenuhi konsumsi komoditi pertaniannya. Sebagai contoh gula, gandum, kedelai, telur ayam dan daging ayam yang ada dipasaran sebagian besar merupakan produk impor dari luar negeri. Tahun 2008 Indonesia akan mengimpor gula1,5juta ton. Sampai agustus ini sudah sekitar 900 ribu ton yang terrealisasi. Nasib beras juga demikian, Indonesia masih mengimpor beras dari Vietnam, Negara yang dulunya berguru pertanian kepada kita. Produksi Kedelai sendiri masih dikuasai oleh perusahaan multinasional milik amerika dan Negara Eropa. Kalu begini jadinya, nasib petanilah yang diujung tombak. Tanpa dukungan penuh dari pemerintah maka sector ini tidak akan berkembang. Indonesia belum mapu memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah untuk kemakmuran rakyat dan masih banyak petani yang termasuk dalam golongan miskin. Daya saing petani masih kurang karena minimnya pengetahuan tentang teknologi, modal usaha, dan kurangnya penelitian dari ilmuwan Indonesia. Lalu, jika kondisi masih seperti ini siapakah yang akan diuntungkan dalam perdagangan bebas? Perusahaan multinasional asing yang berkepentingan politik dengan pemerintah Indonesia adalah jawaban yang mencuat ke permukaan. Dalam mengembangkan negara agroindustri , Indonesia dituntut untuk cepat memperbaiki industry pertanian dan juga nilai tambah dari produk yang dihasilkan dari pertanian. Petani harus disiapkan dalam menghadapi perdagangan bebas dengan meningkatkan kualitasnya, selain itu pemerintah harus mendukung penuh. Perusahaan pertanian di Amerika contohnya, mereka mempunyai kompetensi karena didukung penuh oleh pemerintah dengan timbal baliknya pertanian Amerika berkembang, paling maju didunia. .

Artikel yang Berhubungan:



Artikel yang Berhubungan:



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar